JAKARTA - Memasuki awal 2026, pasar saham domestik menunjukkan performa yang menggembirakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan.
Meski hanya berlangsung dalam tiga hari perdagangan, indeks berhasil melesat ke level 8.748,13, mencerminkan optimisme investor yang kembali menguat setelah pergantian tahun.
Penguatan ini menandai awal tahun yang positif bagi pasar modal Indonesia, sekaligus membuka peluang terbentuknya rekor tertinggi baru dalam waktu dekat. Minat beli yang meningkat, khususnya dari investor asing, menjadi salah satu faktor utama pendorong reli IHSG di awal Januari.
Aksi Investor Asing Jadi Motor Penguatan IHSG
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menjelaskan bahwa kenaikan IHSG didorong oleh aksi akumulasi investor asing yang cukup agresif. Sepanjang periode tersebut, investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp 1,3 triliun di pasar reguler.
Beberapa saham menjadi sasaran utama akumulasi dana asing, di antaranya PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Saham-saham tersebut tercatat sebagai top value akumulasi asing dan berkontribusi menjaga momentum positif IHSG.
Sentimen Santa Claus Rally dan January Effect
Dari sisi sentimen, Hari menuturkan bahwa pergerakan positif IHSG tidak terlepas dari kombinasi dua faktor musiman, yakni Santa Claus Rally di akhir Desember 2025 dan mulai berjalannya January Effect sejak 2 Januari 2026.
Kedua fenomena tersebut secara historis kerap mendorong peningkatan minat risiko (risk appetite) investor. Alhasil, momentum bullish IHSG dapat terjaga pada fase awal tahun, terutama ketika didukung oleh aliran dana asing yang masih masuk ke pasar.
Pengaruh Pasar Global dan Dinamika Geopolitik
Menurut Hari, pada sepekan perdagangan 5–9 Januari 2026, pasar saham global, khususnya Wall Street, masih berpeluang melanjutkan penguatan. Optimisme ini didukung oleh kinerja solid pasar saham Amerika Serikat sepanjang 2025.
Hal tersebut tercermin dari kinerja indeks utama, di mana S&P 500 naik lebih dari 16 persen, Nasdaq menguat di atas 20 persen, dan Dow Jones naik sekitar 13 persen sepanjang tahun lalu. Sektor teknologi masih menjadi motor utama penguatan, meski ke depan reli diperkirakan akan lebih merata.
“Ke depan, reli diperkirakan akan lebih seimbang dengan potensi rotasi ke sektor non-teknologi, termasuk bank regional,” ujar Hari.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela, termasuk kabar serangan militer, berpotensi memengaruhi harga komoditas global, khususnya minyak, akibat kekhawatiran terhadap pasokan.
Faktor Domestik Penopang Potensi Rekor Baru
Dari dalam negeri, IHSG dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan dan bahkan mencetak all time high (ATH) baru dalam sepekan ke depan. Peluang tersebut ditopang oleh rilis sejumlah data ekonomi domestik yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Beberapa indikator penting yang akan dirilis meliputi data neraca dagang, inflasi, serta Consumer Confidence Index. Konsensus pasar memperkirakan neraca dagang tetap solid dan inflasi berada dalam level terkendali.
“Kondisi ini diharapkan dapat memperkuat sentimen positif pasar, mencerminkan stabilitas makroekonomi serta daya beli masyarakat yang tetap terjaga,” paparnya.
Meski demikian, Hari menegaskan bahwa pergerakan IHSG tetap akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal dan arah kebijakan global. Kendati begitu, secara keseluruhan peluang penguatan pasar masih terbuka.
Proyeksi Teknikal IHSG Pekan Ini
Mengulas proyeksi pasar pada periode 5–9 Januari 2026, IPOT optimistis IHSG berpotensi melanjutkan penguatan. Dukungan January Effect, berlanjutnya akumulasi investor asing, serta rilis data ekonomi domestik menjadi faktor utama pendukung.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 8.725–8.780, dengan momentum bullish yang masih terjaga. Investor dan trader disarankan fokus pada saham-saham yang berada dalam tren naik (uptrend), didukung volume transaksi yang kuat serta aliran dana asing.
“Meski pasar cenderung bullish, manajemen risiko tetap perlu diperhatikan karena potensi aksi profit taking tetap terbuka,” bebernya.
Rekomendasi Saham IPOT Pekan Ini
Merespons dinamika pasar, IPOT merekomendasikan strategi investasi pada saham-saham yang berpotensi terdorong oleh January Effect, dengan memanfaatkan Booster Modal dan instrumen Power Fund Series.
Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini:
PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL)
Rekomendasi beli dengan area masuk Rp 505, target harga Rp 620, dan stop loss Rp 490. Secara teknikal, BULL masih berada dalam tren naik, ditandai pergerakan harga di atas EMA-5 hingga EMA-50.
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA)
Rekomendasi beli di Rp 1.500, target harga Rp 1.830, dan stop loss Rp 1.400. Saham ini tetap bertahan di atas EMA-5 hingga EMA-50, dengan dukungan akumulasi asing sekitar Rp 32 miliar dalam sepekan terakhir.
PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)
Area beli Rp 3.930, target harga Rp 4.230, dan stop loss Rp 3.800. IMPC menunjukkan sinyal bullish setelah menembus area all time high, didukung akumulasi asing sekitar Rp 113 miliar.
Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD)
Direkomendasikan beli sebagai alternatif investasi defensif. ETF ini berisi saham-saham berdividen tinggi yang berpotensi diuntungkan dari pembagian dividen interim.